JAKARTA, gppnews. id| Diskursus Pancasila angkatan kelima yang dilakukan secara online baru saja dimulai dengan seri pertama dari sembilan seri yang akan dilakukan. Diskursus ini diadakan oleh Gerakan Pembumian Pancasila, sebuah organisasi massa yang concern terhadap pembumian nilai-nilai Pancasila di Indonesia.

Menurut Ketua Umum DPP GPP, Dr.Anton D.R. Manurung, M.Si., nilai-nilai luhur Pancasila menjadi magnet pemersatu bagi bangsa dan negara Indonesia dengan segala kekayaan dan keberagamannya: dengan luas 1.913.578KM2 , 34 Provinsi, 17.504 pulau, 1128 suku, 270,2 juta jiwa, 6 agama, dan 546 bahasa daerah aktif.

“Bung Karno kerap mengedepankan bahwa ‘Hanya Pantjasila-lah yang dapat tetap mengutuhkan Negara kita.’ Pancasila merupakan jiwa atau kepribadian bangsa Indonesia. Tanpa Pancasila, Indonesia tidak punya jiwa. Sebagai kepribadian bangsa, Pancasila yang digali Bung Karno berakar dari nilai-nilai luhur kebijaksanaan hidup tradisi kearifan lokal. Kearifan lokal (local wisdom) merupakan kekayaan budaya bangsa mencakup kebijakan hidup, pandangan hidup dan dijadikan sebagai kebijaksanaan hidup” ujar Anton Manurung dalam sambutan pembukaan.

Lebih lanjut Anton Manurung mengatakan bahwa kearifan lokal ternyata tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Seperti gotong royong, kekeluargaan, toleransi, budi pekerti, keramah-tamahan, keharmonisan sosial dan alam, dan etos kerja.

Menurut Sekretaris Jenderal DPP GPP, Dr.Bondan Kanumoyoso,M.Hum., diskursus Pancasila ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar bagi para peserta mengenai historisitas Pancasila; Membantu peserta menganalisis dan mengkaji kompleksitas permasalahan bangsa berbasis historisitas Marhaenisme sebagai akar historis Pancasila; Menguatkan peserta agar mampu menerapkan Pancasila sebagai ‘spiritualitas yang memerdekakan’; Mereaktualisasikan dan merevitalisasi nilai-nilai luhur Pancasila sebagai upaya memahami Pancasila sebagai ideologi terapan dan terapan ideologi, serta Mengembangkan model terapan strategis (TRISAKTI) dan taktis (praktis) dari instrumen Pancasila, baik generik maupun spesifik.

Diskursus Pancasila angkatan kelima ini diikuti olah 35 orang yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Mereka berlatar belakang beragam, seperti pendidik (mulai dari guru, dosen, bahkan rektor/kepala sekolah tinggi), praktisi, serta profesi lain seperti tenaga ahli anggota MPR RI dan kesbangpol daerah.

Serial pertama ini bertemakan “Teori Asal Mula Pancasila: Akar Filsafat Pancasila, Asal Mula Pancasila sebagai Filsafat Negara, Asal Mula Pancasila secara Budaya, Sublimasi dan Kristalisasi Nilai-nilai Luhur Peradaban Bangsa” yang dibawakan oleh narasumber Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, SJ seorang rohaniawan yang selama ini menjadi pengajar tetap di STF Driyarkara, Jakarta.

“Saya meyakini bahwa Pancasila sebagai fungsi persatuan Bangsa. Mengapa Pancasila dapat menjalankan fungsinya sebagai pemersatu itu dengan begitu gemilang? Karena kekuatan Pancasila berdasarkan dua kenyataan: Di satu pihak Pancasila berakar dalam nilai-nilai tradisi-tradisi Indonesia, di lain pihak Pancasila mewujudkan pokok-pokok etika politik yang terbuka bagi dunia pasca-tradisional paling modern”, kata Romo Magnis, panggilan rohaniwan asal Jerman ini.

Lebih lanjut Romo Magnis mengatakan bahwa Lima Sila Pancasila dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk karena bukan paham-paham impor dari luar, melainkan berakar dari budaya-budaya nusantara. Dengan cara masing-masing budaya-budaya itu sudah memiliki nilai-nilai, sikap-sikap dan cita-cita yang dirumuskan dalam Pancasila, dimana termasuk bahwa budaya-budaya nusantara bukannya menutup diri, melainkan terbuka hal mana kelihatan dari cara agama-agama besar umat manusia dengan tenteram dan halus masuk dan menjadi ciri budaya-budaya Indonesia sendiri. Indonesia sejak dulu bisa terbuka-tanpa kehilangan identitasnya.

Dalam diskursus ini peserta sangat antusias menanggapi, bertanya, bahkan memberi penegasan bersama. Serial pertama ini menjadi pemantik untuk diskursus selanjutnya yang akan mendalami tiga tema besar, yaitu “Pancasila sebagai Dasar Negara, Ideologi, dan Spiritualitas Bangsa”.

Pada akhir diskursus, Maria Goreti, S.Sos., M.Si., sebagai Wakil Ketua OC mengatakan bahwa bangsa Indonesia bersyukur dianugerahi Tuhan, yaitu Pancasila yang mampu menyatukan kita dari berbagai suku, agama, bahasa menjadi satu bangsa. Inilah hadiah terindah untuk kita Bangsa Indonesia. (TD)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.